Jakarta -Selain produk segar, impor cabai yang masuk ke Indonesia umumnya berbentuk cabai kering olahan. Cabai olahan ini biasanya diimpor oleh industri makanan, termasuk dimanfaatkan oleh bisnis restoran.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Dewan Hortikultura Indonesia (DHI), Benny Kusbini kepada detikFinance, Senin (5/5/2014)
“Cabai kering biasa dipakai untuk industri mi instan dan restoran,” katanya.
Benny mengatakan pengguna terbanyak cabai olahan impor adalah industri mi instan. Ia mengilustrasikan, dengan produksi mi instan per tahun mencapai 15 miliar bungkus. Dengan asumsi satu kemasan mi instan membutuhkan 3 gram cabai bubuk untuk bumbu, maka setiap bulannya dibutuhkan 375 ton cabai kering impor atau 4500 ton per tahun.
Menurutnya cabai bubuk impor relatif mudah didapat dan harganya lebih murah. Namun sayangnya kebutuhan ini belum ditangkap oleh pemerintah dan industri lokal.
“Ini lah yang saya heran, pemerintah harus tahu ada peluang, tapi ini didiamkan saja,” katanya.
Ia mengungkapkan belum ada desain menyeluruh soal industri hilir pertanian di Indonesia. Banyak petani cabai di dalam negeri belum mengenal teknologi pengolahan cabai bubuk atau kering. Hasilnya setiap ada panen raya, harga cabai selalu anjlok, dampaknya petani merugi karena tak bisa diolah.Next
(hen/hds)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!
Cabai Impor Dipakai Pabrik Mi Instan Hingga Restoran
No comments:
Post a Comment