Jakarta -Sejumlah SPBU di beberapa wilayah terjadi antrean panjang kendaraan yang akan membeli BBM subsidi, pasalnya masyarakat panik karena adanya pemangkasan jatah BBM subsidi di SPBU hingga 20% oleh PT Pertamina (Persero).
Pemangkasan jatah tersebut dilakukan karena jatah BBM subsidi nasional dikurangi dari 48 juta kilo liter (KL) menjadi hanya 46 juta KL.
“Sebetulnya hal ini tidak perlu terjadi kalau Pemerintah mengambil langkah menaikkan harga BBM subsidi,” ujar Wakil Ketua Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Fanshurullah Asa kepada detikFinance, Senin (25/8/2014).
Fanshurullah mengatakan, pasalnya kebijakan yang diambil saat ini mulai dari pembatasan BBM subsidi dan pemangkasan jatah BBM subsidi di SPBU tidak terlalu efektif menekan konsumsi BBM subsidi.
“Apalagi risikonya cukup tinggi, seperti pemangkasan jatah BBM subsidi, kalau tidak hati-hati dilakukan dan sosialisasi yang menyeluruh ke masyarakat, itu bisa terjadi kepanikan dan penimbunan BBM subsidi di masyarakat, bukannya menghemat konsumsi BBM subsidi bisa meningkat lebih tinggi,” kata pria yang akrab disapa Ifan ini.
Ia menegaskan, secara pribadi maupun lembaganya BPH Migas, sudah lama berharap pemerintah lebih memilih mengambil kebijakan menaikkan harga BBM subsidi saja seperti 2013 lalu.
“Tahun lalu BBM subsidi dinaikkan Rp 2.000 per liter, terbukti tidak ada gejolak di masayarakat, terbukti konsumsi BBM subsidi turun hingga 1,5 juta kilo liter, anggaran subsidi dapat ditekan,” tutupnya.
(rrd/hen)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!
Warga Panik Antre Panjang di SPBU, Haruskah BBM Subsidi Naik?
No comments:
Post a Comment